Lightning meets the Great Protector

Shei
8 min readNov 24, 2024

--

Tidak butuh waktu lama untuk Kavindra sampai di Ruuang Kopi karena kurangnya kendaraan di Minggu pagi itu. Dia segera memilih tempat duduk yang sejuk dan mempelajari menu yang telah disediakan dengan tutur wajah yang datar. Walau dirinya terlihat santai di mata pekerja kafe dan pengunjung lainnya, lelaki itu tidak bisa membantah bahwa dirinya sedang sangat gugup.

Saat Kavindra masih bingung harus bertingkah seperti apa, ada suara wanita yang menyapanya, “Kavindra? Hi? Am I late?”

Dengan sok tenang, Kavindra tersenyum dan menjabat tangan wanita itu sambil menjawab, “Good afternoon, Levinia. No, no. You’re right on time. Don’t worry.” Padahal, pikiran lelaki itu sedang tidak tenang sama sekali. Bisa-bisanya wanita itu datang bertepatan dengan mulainya bait pertama lagu Labirin oleh Tulus. Wanita itu terlihat cantik dan anggun, padahal pilihan busananya simpel: white baby doll shirt, jeans, dan sepatu Converse. Sepertinya, tanpa debat, memang Levinia adalah tipenya. Eh, tunggu, dirinya sudah wangi belum, ya? Apakah dia sudah terlihat rapi di mata Levinia? Makanan dan minuman apa yang harus dipesan di pertemuan seperti ini?

Ya, mungkin jika adiknya bisa membaca pikirannya saat itu, Kahyang pasti akan tertawa puas seakan meledeknya, “Lebay amat, Kak, astaga!”

Yang Kavindra tidak tahu adalah Levinia juga sebenarnya sedang mengalami hal yang serupa dengannya. How can a guy look good wearing reading glasses, a light blue dress shirt with a white T-shirt underneath and beige trousers? Did she style her hair enough? Why did she decide to wear a white top when she’d be eating? Would she be able to eat at all? Gosh, hopefully her makeup doesn’t melt from the nervous sweat.

“Ah, here’s the extra menu. Take your time deciding. Kebetulan, aku suka makan segala hal jadi apapun itu, I can help you finish or share,” ucap Kavindra sambil menaruh menu di dekat Levinia.

“First things first, coffee,” celetuk Levinia sambil tersenyum.

“Exactly the same thing I looked for too. Can’t live without caffeine,” balas Kavindra.

Exactly! Sebenarnya, selera makanan tuh masih bisa diatur tapi selera kopi… susah. Like, I’ve already decided what to eat but what coffee to try… tough.” Ucapan Levinia membuat Kavindra merasa lebih nyaman dan perlahan, rasa gugup yang sempat memenuhi pikirannya perlahan menghilang.

“Well, we’ll just have to find out, huh,” ujar Kavindra sambil memanggil pelayan terdekat untuk mencatat pesanan meja mereka.

“Satu thai beef salad sama iced caffé latte pakai Kenawat Blend, Mas. Hvala.”

“Saya breakfast croissant satu, Mas. Minumnya yang Kopi Susu Racik. Rahasianya gak usah diumbar, hahaha. Kalau ada tambahan, nanti dipanggil lagi ya. Makasih, Mas.”

Setelah pelayan tersebut meninggalkan meja mereka, Kavindra langsung coba membuka percakapan baru dengan pertanyaan simpel,“So, Hvala?

“Terima kasih dalam bahasa Kroasia. Kebetulan sudah jadi kebiasaan. I’m still trying to shake it off but old habits die hard.”

“I don’t think you have to shake it off. It can be a fun quirk or a good conversation starter like right now,” balas Kavindra.

Levinia tersenyum dan baru saja akan melanjutkan percakapan tersebut saat pelayan mengantar minuman yang telah dipesan dua orang itu.

Tanpa harus disuruh, Kavindra langsung menaruh sedotan di minuman mereka dan mengamankan buku yang ada di meja jauh dari kemungkinan terkena tumpahan minuman. Sepertinya, kebiasaan dirinya mengurus adiknya juga susah disembunyikan.

“Ah, makasih, Kavindra,” ucap Levinia sebelum menyeruput minuman tersebut dan menambahkan, “I like the coffee. I might actually come here again to work if the weather’s cool.”

“I’m glad you like it. Waktunya menebak rahasia kopi susu ini,” canda Kavindra sebelum memberi penilaian kopinya, “Maybe the secret is good company.”

“I don’t know what to say but one word. Rizz. Also, panggil saja Levi biar singkat. It’s okay,” balas Levinia.

“Okay. Then, call me Kavi. Hey, that rhymes. Kavi, Levi. Nice to meet you,” ujar Kavindra sebelum dirinya mengajak Levinia berjabat tangan.

Saat hidangan mereka diantar ke meja, Kavindra langsung memotong croissant-nya menjadi beberapa bagian dan berkata, “If you want a bite, I already cut it out for you.”

“Ah, enggak perlu kok. Ini saja sudah cukup, Kav. Tadi malam habis selesai nge-gym jadi butuh yang hijau-hijau.”

Oalah, gitu ya? It’s okay. I didn’t want to let you eat just a salad on the first meeting. I mean if that’s what you want to eat, I’m not going to insist otherwise. Eh, you go to the gym? Do you have a target or is it just for wellness?” tanya Kavindra dengan penasaran.

“Biar active dan punya hobi, sih. Dulu, aku sering yoga buat tambahan kegiatan. Soalnya, kalau di Eropa, jalan kaki kemana-mana jadi masalah daily steps enggak perlu pusing. Cuma, kalau di sini, beda cerita jadi lagi cari outlet biar enggak malas. Especially, since I’m a freelancer so I want to capitalize on the advantage of time,” jelas Levinia dengan pelan-pelan.

Kavindra mengangguk setuju selama penjelasan Levinia. Menurut lelaki itu, olahraga dan menggerak diri merupakan salah satu cara manusia dapat berbakti untuk dirinya. Sehat dan bugar bukanlah hal yang mutlak, melainkan harus diusahakan secara konsisten. Salah satu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang adalah umur jadi manusia harus bisa memberi yang terbaik untuk badannya.

Tanpa dia sadari, dirinya sudah tersenyum lebar mendengar jawaban wanita itu dan memujinya, “I respect that a lot. It’s easier to let go when the environment changes drastically and you waver. Padahal, kesehatan itu penting banget. Sehat itu masalah pengaturan waktu dan kemauan saja sebenarnya. Sakit itu mahal banget.

“Ah, biasa saja, kok. You just have to be strong enough to stick to what worked for you. Remember the feeling, gitu loh. I totally agree with you. Having back pain or gerd is not cute when health care can be expensive. Crying in Croatian health insurance. Anyways, hobimu apa? Are you one of those football manias or F1 fans?” tanya Levinia.

“Nah, I just run and do strength training in the gym. Sebenarnya, aku termasuk boring. Kantor, rumah, gym atau GBK, tempat kopi. Oh, sama kalau misalnya adik aku mau diantar kemana-mana. Okay, I also read books and watch dramas or shows too when I want to rot in bed. Memang itu saja sih, siklus hidupku,” jawab Kavindra dengan jujur.

“Ah, pantas. You strike me as someone who’d have younger siblings. I have two and people say it shows,” balas Levinia.

“Aku cuma punya satu adik. Kahyang namanya. Dia sudah kuliah tapi mungkin karena kita bedanya delapan tahun jadi dia kesannya masih kecil di mataku,” ucap Kavindra.

“Hampir semua kakak bakal rasain feeling kayak itu, sih. Aku bedanya sama adik-adik aku jauh. Enam sama Lyon, sembilan sama Lea. So, I understand the feeling.”

Empathy and relatability, two things Levinia deems to be intertwined in her ways of handling both new acquaintances or long-time friends. Keterampilan kecerdasan emosional tersebut berkembang dari pengalamannya mengajar orang lain dan menghadapi berbagai kepribadian selama bekerja dan adaptasi di tanah Kroasia. Kini, perempuan itu bisa menyimpulkan nuansa identitas dan kepribadian seseorang hanya dari beberapa percakapan. Levinia menyebut hal ini sebagai kecerdasan emosional, sedangkan adik-adiknya akan mengatakan, “she has an accurate vibe check”.

“Ah, thanks. I just like to talk about my sister because I actually found out being known as her brother is nice. Being known for doing great at your job is one thing but being known as a good sibling makes you feel proud and grateful that you did what you had to do in life,” kata Kavindra dengan nada melankolis.

Tuh kan, benar kan gue. Nih cowok tuh mapan banget, simpul Levinia dalam hati. Memang dari momen Kavindra membahas adiknya, perempuan itu sudah bisa melihat beberapa sifat Kavindra— orang yang tabiatnya peduli dan merawat, pengalah, dan sabar. Lagi dan lagi, dia tidak salah dalam menilai karakter orang lain. Cuma ada hal yang mengundang pertanyaan di benak Levinia: Mengapa Kavindra tidak membahas orang tuanya? Suatu hal yang patut dia tanyakan di pertemuan berikutnya… kalau ada.

“Your job as… one of the most accomplished young leaders in Indonesia? Excuse my snooping, I couldn’t help but scroll through your Instagram,” balas Levinia dengan senyuman.

“Ah… Iya. I actually was wondering if you’d knew but well… Kalau begitu, cat’s outta the bag now, huh,” ucap Kavindra.

“Enggak usah dibahas kok, kalau enggak nyaman. No worries. We can always talk about…. books?” usul Levinia. Walau dia tidak melihat perubahan raut di muka Kavindra yang menunjukkan ketidaknyamanan, dia lebih memilih mencari aman.

“Ah yes… books. What was the one you bought?” tanya Kavindra.

On Earth, We’re Briefly Gorgeous. Aku harus jujur, aku belum selesai bacanya. It started to get really emotionally packed and… not triggering but the writing was so heartbreaking. Ternyata tidak ramah work-from-cafe,” canda Levinia.

I don’t know what to say because I bought the Happy Place book for my sister. Kemarin, dia masih baca di kamarnya terus pas aku buka pintunya, I saw her crying with her mascara still in one piece,” balas Kavindra.

So, the book was just an excuse? Bisa-bisanya kita berdua tetap bawa loh hari ini,” tawa Levinia.

Yeah, Kahyang didn’t mind me bringing it today. Also, I mean… I hope the pink cover adds a pop of color to my outfit so it… slays like a girlie pop,” ujar Kavindra dengan ragu dan pemilihan katanya membuat Levinia tertawa.

The girlies would approve a man who doesn’t mind pink. Oh! Wait, they’ re playing Saturn!” Kata-kata Levinia membuat Kavindra memperhatikan lagu yang sedang dimainkan di speaker Ruuang Kopi. Lagu SZA tersebut membuatnya tersenyum dengan lega. Sepertinya, semuanya berjalan dengan lancar dari segi percakapan, rasa makanan dan minuman, dan bahkan pemilihan lagu yang dimainkan. Lelaki itu membiarkan dirinya memperhatikan Levinia yang sedang menikmati lagu salah satu penyanyi favoritnya.

It was that moment he took in the scent of her perfume. Jo Malone’s Honeysuckle & Davana, the scent of his room candle and one of the five perfumes his sister uses. No wonder she felt familiar. Subtly alluring like the natural scent of flowers and warm like a sip of port wine.

Kavindra menunggu sampai lagu tersebut berakhir sebelum memuji perempuan itu, “I don’t know how to sugarcoat this but… your perfume is really nice. I have the exact scent as a candle in my room. I am not joking. Sedikit merinding pas aku sadar.”

“Thank you! My friend bought it for me in London. Sejak hari itu, memang sering dikasih compliment soal parfum. I should tell her about this later.”

“Did you drive here?” tanya Kavindra tiba-tiba.

“Yeah, why? Were you going to drive me home, by any chance, Mr. Kavindra?”

“Jangan-jangan kamu cenayang, Levi,” canda Kavindra sambil memberi isyarat kepada pelayan untuk mengambil bon meja mereka.

“Eh, you don’t have to.

Kavindra tersenyum, “Come on, Levi. It’s on me. Can’t have your siblings thinking I’m ‘sus’ for not paying when I’m fully capable to do so. Plus, I want to handle the bill.”

“They wouldn’t think you’re ‘sus’… yet.”

“Not going to give room for them to even doubt me,” ucap Kavindra setelah pelayan tersebut berhasil memproses bon meja mereka dengan kartu lelaki tersebut.

Thank you for today, Kavi,” ujar Levinia saat dia mendapatkan Kavindra bergegas bangkit dari kursinya untuk membantu perempuan itu bangkit dari kursinya.

“The honour has been all mine, Levi. Semoga kita bisa jadwalin lagi ketemuannya. Just let me know when you’re free.”

Levindra tertawa kecil, “Yang harus nanya kapan free itu aku ke kamu, bukan?”

No, that’s a rhetoric question. In fact, aku bisa kapan saja buat ketemu kamu. Jadwal mah bisa saja diatur. More so, to spend time with someone like you.

Mereka berdua sudah berdiri di luar Ruuang Kopi. Riuh di dalam kafe yang menjadi saksi pertemuan mereka telah lama memudar selama mereka berusaha memperpanjang waktu dengan obrolan ringan sebelum berpisah untuk hari itu.

“Okay, rizz guy. Aku balik duluan ya,” pamit Levinia sambil memperhatikan notifikasi pesan dari Lea, “Big sister duty calls, I have to pick up cake for Lea’s friend’s birthday surprise. Until the next time, Kavi.”

“In case you thought I was joking, I’m still free next week. The week after that. The other week after. Any day, always free for you.”

“Iya, iya. Must be nice to be Gael Kavindra.”

Kavindra tersenyum di depan perempuan itu untuk terakhir kalinya hari ini sambil berkata, “Nah, life just started getting good when you came into my orbit, Levinia.”

Sign up to discover human stories that deepen your understanding of the world.

Free

Distraction-free reading. No ads.

Organize your knowledge with lists and highlights.

Tell your story. Find your audience.

Membership

Read member-only stories

Support writers you read most

Earn money for your writing

Listen to audio narrations

Read offline with the Medium app

--

--

Shei
Shei

Written by Shei

narrations by @mungkeulhada, welcome!

No responses yet

Write a response